Skouw Mabo : Ketika Kampung Sendiri Menjadi Ruang Diskriminasi

Kamis, 1 Januari 2026

Kampung Skouw Mabo Kampung Skouw Mabo | TemawoNews 2026

Kampung seharusnya menjadi rumah. Tempat setiap orang merasa diterima, dihormati, dan dilindungi. Namun dalam kenyataan sosial di Kampung Skouw Mabo, rumah itu tidak selalu ramah bagi semua penghuninya. Ada situasi di mana kampung justru menjadi ruang diskriminasi—bukan oleh orang luar, tetapi oleh sesama warga kampung.

Diskriminasi itu tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik. Ia sering hadir secara halus: melalui kata-kata, sikap, tatapan, pengucilan, hingga pembatasan akses terhadap ruang sosial dan ekonomi. Orang-orang yang dianggap “bukan asli Skouw Mabo”—baik pendatang dari kampung lain, daerah lain di Papua, bahkan dari negara lain—perlahan ditempatkan pada posisi yang berbeda, tidak setara.

Yang membuat situasi ini semakin rumit adalah kenyataan bahwa praktik tersebut kerap dibungkus dengan alasan adat, identitas, dan klaim keaslian. Padahal, ketika adat dijadikan pembenaran untuk merendahkan martabat manusia lain, saat itulah kita perlu bertanya dengan jujur: apakah ini benar-benar adat, ataukah tafsir yang menyimpang dari nilai luhur yang diwariskan leluhur?

Skouw Mabo adalah kampung perbatasan. Sejak awal, wilayah ini hidup dalam perjumpaan—perjumpaan budaya, bahasa, dan manusia. Kampung ini tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari keberagaman. Menutup diri dan meminggirkan yang berbeda justru bertentangan dengan realitas sejarah sosial kampung itu sendiri.

Membicarakan diskriminasi di kampung bukan berarti membenci kampung. Justru sebaliknya: ini adalah bentuk kepedulian. Kampung yang baik adalah kampung yang berani bercermin, mengakui luka, dan memperbaiki diri.

Pertanyaannya untuk kita semua di awal tahun ini: apakah kampung masih menjadi rumah bersama, atau sudah berubah menjadi ruang seleksi identitas? (*)