Rasisme Tidak Selalu Datang dari Luar

Jumat, 2 Januari 2026

Rasisme Aktivitas masyarakat Kampung Skouw Mabo | TemawoNews 2026

Selama ini, rasisme sering dipahami sebagai sesuatu yang datang dari luar: dari negara lain, dari kelompok mayoritas, atau dari kekuasaan besar. Pemahaman ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak lengkap. Ada satu kenyataan pahit yang sering kita abaikan: rasisme juga bisa tumbuh dari dalam komunitas kita sendiri.

Di Skouw Mabo, rasisme internal muncul ketika identitas “orang asli” dijadikan standar tunggal untuk menentukan siapa yang berhak dihormati, dilibatkan, atau bahkan diakui sebagai bagian dari kampung. Dalam kondisi ini, asal-usul menjadi lebih penting daripada perilaku, kontribusi, dan kemanusiaan seseorang.

Rasisme jenis ini berbahaya karena sering tidak disadari. Ia dianggap wajar, diwariskan dalam percakapan sehari-hari, dan diteruskan tanpa pernah dipertanyakan. Anak-anak tumbuh dengan narasi siapa “kita” dan siapa “mereka”, bahkan sebelum mereka memahami makna persaudaraan.

Ironisnya, rasisme internal justru melemahkan posisi sosial kampung itu sendiri. Ketika sesama warga saling mencurigai dan membatasi, solidaritas runtuh. Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun kampung habis untuk menjaga batas identitas yang sempit.

Lebih jauh lagi, rasisme internal membuka ruang konflik yang mudah dimanfaatkan oleh kepentingan lain—politik, ekonomi, atau kekuasaan. Kampung yang terpecah akan selalu lebih mudah dikendalikan daripada kampung yang bersatu.

Mengakui bahwa rasisme bisa datang dari dalam bukanlah tanda kelemahan, melainkan kedewasaan sosial. Tidak ada komunitas yang bersih dari kesalahan. Yang membedakan adalah keberanian untuk mengoreksi diri.

Maka pertanyaan hari ini adalah: apakah kita berani mengakui bahwa rasisme tidak selalu datang dari luar, tetapi juga hidup dalam cara kita memandang sesama? (*)